Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi menggemparkan teman - teman saya. Ketika ditugaskan untuk membacanya, saya agak terkejut dengan isinya. Karena ada beberapa bagian tersebut yang ditulis dengan kalimat yang "vulgar". Membuat saya sempat berfikir, apakah tidak ada lembaga yang menyensor tulisan tersebut. Ya, karena selama ini, saya hanya mengenal lembaga sensor untuk pornografi dan aksi. Tapi tidak ada untuk tulisan. Saya tidak terlalu mempermasalahkan adegan - agena tersebut, karena toh saya sudah dewasa. Tapi masalah bisa terjadi kalau bacaan ini dibaca oleh anak - anak smp atau sma. Mengingat ini bacaan sastra yang mungkin saja bisa dibaca oleh anak sekolah yang menyukai sastra. Apalagi judul dan cover buku tersebut tidak mengisyaratkan kalau isi buku tersebut ada adegan yang tidak seharusnya dibaca oleh mereka.
Ya, penulis menulis buku ini dengan bahasa yang "buka - bukaan", tentu dengan mengatas namakan seni tulis. Sebagai pembaca saya tidak bisa menyalahkan penulis. Karena menurut saya, penulis hanya menulis oleh tuntutan diri sendiri bukan orang. Menulis untuk diri sendiri. Kalau ia menulis untuk orang lain, maka tentu hasil "pengakuan pariyem", tidak akan seperti yang kita baca. Akan ada banyak hal yang penulis pertimbangkan sebelum menulis.
Sebagai sosok yang sudah tumbuh dewasa, sudah selayaknya kita tidak lagi berfikiran buruk mengenai isi buku itu. Karena pandangan tergantung pada hasil pemikiran kita sendiri. Seburuk apapun sebuah buku, kalau kita memandangnya positif maka kita bisa mengambil hal positif di dalamnya. Begitupun sebaliknya. Dan sebaik apapun sebuah buku, kalau kita memandangnya negatif maka yang akan kita ambil adalah hal yang negatifnya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar